Omiai: Cara Orang Jepang Cari Jodoh

Omiai

Jepang adalah negara maju dengan perkembangan teknologi dan peradaban yang berkembang dengan sangat pesat. Di tengan perkembangan tersebut, Jepang masih melestarikan kebudayaan dan tradisinya. Salah satu tradisi yang masih dilaksanankan orang-orang Jepang adalah tradisi Omiai, yang menjadi salah satu sarana untuk orang Jepang mencari jodoh.

Apa itu Omiai?

Omiai secara harfiah dapat diartikan sebagai “pertemuan yang diatur”. Tradisi perjodohan ini melibatkan perantara (仲人, nakōdo) yang berperan sebagai ‘mak comblang’, yang membantu mencarikan pasangan potensial untuk pihak yang ingin menikah. Peran sebagai perantara ini bia diisi oleh keluarga, teman, atau bahkan agensi perjodohan yang sudah banyak ada sekarang.

Ilustrasi dari light novel “Omiai Shitakunakattanode, Muri Nandai na Jouken wo Tsuketara Doukyuusei ga Kita Ken ni Tsuite” yang menceritakan tentang tradisi omiai.

Tujuan dari Tradisi Omiai

Tujuan dari tradisi ini adalah untuk memastikan bahwa pernikahan yang terjadi tidak hanya sekedar ikatan antara dua individu, tetapi juga merupakan ikatan antara dua keluarga. Karena itu, kepentingan keluarga lebih diutamakan daripada keinginan pribadi.

Perkembangan Tradisi Omiai

Praktek Omiai pertama kali muncul di Jepang pada abad ke-16 di kalangan kelas samurai. Omiai saat iti dilakukan dengan tujuan untuk membentuk dan mempertahankan aliansi militer di antara para panglima perang.

Pada periode Tokugawa (1603-1868), praktek Omiai mulai menyebar ke daerah lain yang ingin meniru kebiasaan para samurai. Itu menjadi praktek untuk mereka yang mencari persatuan antar keluarga, di mana orang tua dari kedua belah pihak yang membuat semua keputusan terkait pernikahan.

Dalam perkembangannya pada masa setelah Perang Pasifik, tradisi ini mulai meninggalkan sistem pertemuan yang diatur secara terbatas. Pada tahun 1930-an sampai 1940-an, Omiai menyumbang 69% dari seluruh pernikahan di Jepang. Namun pada tahun 2010, angka itu turun menjadi hanya 5,2% saja.

Pernikahan Pujie and Hiro Saga dengan tujuan politik, Tokyo, 1937

Bagi mereka yang mengikuti tradisi omiai, kesesuaian sosial, ekonomi, dan keluarga menjadi faktor penting dalam proses memilih pasangan. Namun, seiring dengan perubahan budaya dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat, kesesuaian kepribadian dan salingan pemahaman antara pasangan juga menjadi lebih diutamakan.

Proses Omiai

Proses Omiai dimulai dengan perantara mengumpulkan informasi tentang calon pasangan. Informasi yang mereka kumpulkan mencakup latar belakang keluarga, pekerjaan, pendidikan, kepribadian, minat, dan prefensi lainnya.

Setelah itu perantara kan mengadakan pertemuan untuk keduan calon pasangan dan keluarganya. Pertemuan ini bisanya kan dilaksanankan dalam suasana formal. Pada pertemuan ini, calon pasangan akan dibiarkan mengobrol, bertukar pemikiran untuk dapat saling memahami apakah mereka bisa saling cocok. Pertemuan ini juga memberikan kesempatan bagi keluarga dari kedua belah pihak untuk saling mengenal dan membahas persyaratan pernikahan.

Seiring perkembangan zaman prosesnya mengalami sedikit perubahan. Saat ini, biasanya setelah pertemuan petama, akan diadakan lagi pertemuan antara kedua calon pasangan yang tidak didampingi oleh anggota keluarga lagi untuk mendekatkan keduanya.

Kesimpulan

Tradisi Omiai adalah cerminan dari pentingnya pernikahan yang tidak hanya mengikat dua individu tapi juga dua keluarga bagi orang Jepang. Tradisi yang bertahan di tengah perkembangan zaman. Tidak hanya bertahan tapi bahkan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.